Genre; fantasi, petualangan, drama, emosional, romantis Setting Tempat: Kabupaten Jember BAB 1 – AKU, JAKA Namaku Jaka. Seorang mahasiswa semester tujuh jurusan Kimia, Fakultas MIPA, di salah satu universitas negeri di kota Jember. Di usia dua puluh dua tahun ini, aku merasa seperti berada di ujung tebing, menatap jurang bernama “Drop Out” yang seakan siap menelanku kapan saja. Nilai-nilaiku kacau, tugas menumpuk, dan aku sudah tak tahu lagi bagaimana menjelaskan kegagalan ini pada orang tuaku. Pernah satu malam aku duduk termenung di atap kos, menatap bulan yang dingin, berharap waktu bisa mundur sebentar agar aku bisa memperbaiki semuanya. Tapi harapan itu selalu kandas oleh kenyataan: aku tersesat di jalan yang aku pilih sendiri. Aku tinggal di sebuah kamar kos kecil di daerah Sumbersari, tak jauh dari kampus. Kamarku sempit, dengan satu kasur tipis, meja belajar penuh buku-buku sejarah dan catatan kuliah yang sudah lama tak tersentuh. Di dinding, tergantung rak kayu yan...
Genre: Romantis, Emosional, Drama Setting Tempat: Kota Yogyakarta — kota pelajar yang menyimpan banyak kenangan, penuh suasana romantis dan nuansa nostalgia. BAB 1: Halte dan Langit yang Sama pertemuan pertama yang sederhana tapi menggetarkan hati. Langit Yogyakarta petang itu memerah, seperti mewarnai perasaan yang belum punya nama. Surya duduk di bangku halte dekat Taman Pintar, matanya mengamati kendaraan lalu lalang tanpa benar-benar melihat. Buku sastra di tangannya terbuka, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia baru saja dari kampus, dosennya membatalkan bimbingan skripsi, dan kini ia hanya ingin pulang. Tapi bukan hanya ke rumah, ia ingin pulang ke sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang belum ia temukan. Suara langkah cepat menghentikan lamunannya. Seorang gadis berseragam SMA duduk di ujung bangku halte, sedikit menjauh darinya. Rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya tertunduk sambil memegang ponsel yang retak layarnya. Surya sempat melirik sekilas, lalu kembali pada buku...
Baca juga : Bayangan di Balik Waktu BAB 1 – Hening yang Meresahkan Langit Majapahit berwarna jingga keemasan saat Elara berdiri di puncak balairung istana. Angin lembut menerpa rambutnya yang kini sedikit lebih panjang. Ia menghirup udara pagi itu dalam-dalam, mencoba merasa damai—namun perasaannya justru berkata sebaliknya. “Ada yang aneh dengan pagi ini,” gumamnya pelan. Di bawahnya, kehidupan berjalan seperti biasa: pedagang membuka lapak, suara genderang latihan prajurit terdengar dari kejauhan, dan aroma rempah dari dapur istana tercium samar. Tapi bagi Elara, semuanya terasa... terlalu tenang. Lintang, yang kini menjadi pendampingnya dalam banyak urusan, datang membawakan gulungan naskah. “Ada laporan dari Patih Reksawira. Gerakan dagang dari timur mendadak terhenti.” “Apakah karena cuaca?” tanya Elara sambil membuka gulungan itu. Lintang menggeleng. “Tidak. Mereka bilang... langit malam berubah warna. Seperti cahaya aurora. Dan ada suara gemuruh d...
Komentar
Posting Komentar